Kematian Lebah Mengundang "Lebah"

I Made Lebah termasuk seniman Bali yang paling awal pentas di luar negri. Ia bersama rombongannya dari Peliatan, Ubud, telah memukau Europa pada tahun 1931. Namun, dari semua rekannya yang menjadi duta kesenian Bali saat itu, hanya Lebah yang paling akhir di pangggil Tuhan. Pada 18 November lalu, seniman tabuh ini menghembuskan napasnya yang setelah beberapa tahun didera asma.

Lebah meninggal dalam usia sekitar 79 tahun. Kendati meninggal dalam usia tua, kalangan seniman Bali tersentak juga terutama masyarakat Banjar Kalah,Peliatan Ubud, telah keilangan salah seorang seniman besarnya. Bersama rekannya, Anak Agung Gede Mandra yang telah lama mendahuluinya ia dengan penuh vitalitas membina tari dan tabuh yang kini terkristalitasi menjadi stil Peliatan.


Sumbangsih Lebah pada jagat seni karawitan Bali tentu bukan hanya untuk desanya. Ketokohan tak kurang pentingnya dalam yperkembangan seni kebyar yang kini mendominasi seni pertunjukan Bali. Ketika I Marya menciptakan Oleg tamulilingan, Lebah dipercaya menginterprestasikan dan menata iringannya. Iringan Oleg ala Lebah itu hingga kini masih diwarisi oleh sekeha-sekeha seni tari dan tabuh di Ubud.

Lebah juga berkiprah dalam dramatari Arja. Pukulan dan gaya permainan kendangnya saat mengiringi teater tari-nyanyi ini sangat dikagumi penonton dan begitu sangat disukai oleh para penari Arja.Kepiawaian Lebah bermain kendang pearjaan bahkan menjadi panutan dan idola para penabuh Arja selalu diasosiasikan dengan ketrampilan Lebah.

Pada hari-hari tuanyapun ia masih aktif menabuh gamelan.Namun, ia tak lagi memainkan kendang melainkan melantunkan Gender Rambat jika sedang menabuh gambelan Semarepagulingan. Walau semangatnya menabuh gambelangy menggebu, Fisiknya yang sudah reyot, pendengaranya yang tak begitu berpungsi, dan asma yang kemudian menggerogotinya, membuat Lebah terpuruk. Ketika diundang dalam Pentas Seniman Tua pada PKB tahun 1990 ia sangat gembira namun mengatakan tak sanggup datang ke Taman Budaya Denpasar.

Kesenimanan I Lebah selain dibentuk ditempat kelahirannya,ia suka mencari pengalaman/berguru kemana-mana. Dalam seni palegongan ia digembleng di Sukawati, Anak Agung Rai Perit. Di Sukawatilah ia menimba pengetahuan dan ketrampilan seni tabuh untuk mengiringi Legong Lasem, Pelayon, Kuntul dan Semarandana. "Tabuh legong yang saya kembangkan di Peliatan berdasarkan apa yang saya peroleh di Sukawati," ujar Lebah ketika penulis mewawancarainya pada 1990.

Lebah tak sempat mengenyam pendidikan formal. Namun, sebagai " Bintang Tabuh" di desanya ia menjadi pujaan gadis-gadis.Maka tak begitu sulit baginya mempersunting NI Made Jabrig dan kemudian NI Nyoman Jabreg. Dari kedua istrinya ini anak-anaknya yang memberinya sembilan cucu dan 12 orang kumpi. Mungkin dari keturanannya ini akan ada yang mewarisi kebesaran nama Lebah.

Setelah merambah Eropah pada tahun 1931,bersama sekehanya di Peliatan, ia melanglang bagian-bagian dunia yang lainya. Tahun 1952 ia bertandang ke Negeri Paman Sam dengan penampilan tari Pendet, legong, topeng, baris dan cak. Hampir semua kota beras di Amerika Serikat didatanginya. Setelah sempat pentas Australi pada 1972,pada 1982, ia bersama rombongan mempesona Eropa yakni Itali, Belgia, dan Jerman Barat.

Begitulah, setelah dengan penuh dedikasi menggeluti keseniannya dan setelah sempat mengharumkan nama Bali dan Indonesia,Lebah harus pasrah. Ia teronggok dengan tabah sembari merenungi masa- masa manisnya, ketika dikagumi penonton,ketika naik pesawat terbang dan dielukan-elukan di Negeri orang.Kini empu kerawitan I Made Lebah telah mengakhiri riwatnya.Namun riwat gending-gending klasik semarpagulingan akan bergulir terus. Keelokan legong Peliatan akan mengundang beribu-ribu "Lebah" untuk mengaguminya.

Kadek Suartaya

This material is copied from the Bali Post,Senin Umanis,2 Desember,1996. Tribute to Made Lebah (Bahasa Inggeris)